
Balapan, sebuah ritual jalan yang tak asing. Kegiatan yang membuat jalan bagai monster yang menjadikan para pengendara alat transportasi sebagai mangsa empuk. Tapi, mengetahui hal seperti ini banyak kerugiannya, siswa-siswa yang mengendarai sepeda motor tak malah jera. Justru para siswa akan tancap gas hingga kecepatan -kendaraan bermotornya- di atas normal. Apalagi sering terdengar kabar balap malam sering dipelopori oleh para penerus bangsa yang masih berseragam abu-abu. Bukankah harusnya para siswa berhati-hati karena masa depannya masih terhampar luas? Tapi kenapa siswa Indonesia malah asyik kebut-kebutan setiap berangkat dan pulang sekolah tanpa peduli akan keselamatan.
Masa remaja merupakan masa-masa labil bagi seorang manusia. Mengejar trend merupakan kebiasaan generasi muda yang masih sibuk mencari jati diri yang masih terbenam. Tapi, sesungguhnya jati diri bisa ditemukan lewat belajar.
Kecenderungan setiap insan yang masih mencari jati diri menginginkan jati dirinya bagus. Tapi, hal-hal buruk masih saja dilakoni seperti berbalap-balap ria. Padahal, pada dasarnya balapan justru akan membawa dampak buruk pada sikap-sikap remaja. Buktinya, geng nero yang pernah marak ditampilkan di televisi juga berawal dari kendaraan bermotor. Serta banyak remaja yang kecanduan narkoba dan miras karena balap malam.
Berkaitan dengan ketidaktertiban yang terjadi di Indonesia dalam berkendaraan sesungguhnya para polantas juga bertanggung jawab. Siswa yang sering berbalapan terkadang tak memiliki SIM atau mungkin siswa yang seharusnya belum cukup umur untuk memiliki SIM. Polisi harusnya memikirkan masa depan para siswa yang membuat SIM secara ilegal, apakah baik untuknya atau tidak. Bahkan pembuatan SIM untuk anak dibawah umur malah tak menggunakan tes. Lalu apa gunanya SIM kalau sesungguhnya para penggunanya tak mengerti tata cara yang baik untuk berkendara?
Selain itu masih ada cara yang bisa kita tiru dari negara lain. Di luar negeri, sekolah-sekolah rela menyediakan kendaraan (bus sekolah) untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Juga banyak sekolah yang menerapkan sistem asrama. Tapi, di Indonesia tercinta hal ini masih merupaka hal yang aneh. Andai Indonesia mau menerapkan progam seperti ini, mungkin kecelakaan yang terjadi pada siswa bisa diminimalkan dan tak terlalu beresiko terhadap masa depan bangsa.
Jadi para generasi penerus, ingat masa depan menanti. Jangan rusak masa depanmu hanya karena mengejar trend untuk berugal-ugalan di tengah jalan penuh benda bermesin yang membuat korban menumpuk.
Sabtu, 06 Maret 2010
Dunia itu luas tapi sempit






